P2H forklift adalah pemeriksaan dan perawatan harian yang dilakukan operator sebelum unit dipakai. Pemeriksaan ini memakan waktu 5–10 menit dan mencakup kondisi fisik, cairan, ban, garpu, rantai, rem, kemudi, serta perangkat keselamatan. Kebiasaan ini diajarkan dalam pelatihan SIO forklift dan menjadi bagian dari ujian praktik.
Mengapa P2H wajib dilakukan setiap shift?
Forklift bekerja keras. Selang hidraulik bisa bocor, ban bisa sobek, dan rem bisa melemah dari satu shift ke shift berikutnya. Operator adalah orang pertama yang berpeluang menemukannya.
Manfaat langsung P2H:
- kerusakan kecil ditemukan sebelum menjadi kecelakaan;
- biaya perbaikan lebih rendah karena ditangani lebih awal;
- ada catatan tertulis yang menunjukkan unit diperiksa secara rutin;
- operator mengenal kondisi unit yang dipegangnya.
Permenaker No. 8 Tahun 2020 mewajibkan pesawat angkat dan pesawat angkut dipelihara dan diperiksa agar tetap memenuhi syarat K3. P2H adalah lapisan pertama dari kewajiban itu, sebelum pemeriksaan berkala oleh pihak berwenang.
Bagaimana urutan P2H yang baik?
Gunakan urutan tetap agar tidak ada yang terlewat. Pola yang umum: berkeliling unit searah jarum jam, periksa bagian bawah, lalu naik ke kursi operator.
- Pemeriksaan visual keliling dengan mesin mati.
- Pemeriksaan cairan dan sumber tenaga.
- Pemeriksaan dari kursi operator.
- Uji fungsi dengan mesin hidup.
- Pencatatan pada formulir.
Checklist pemeriksaan visual (mesin mati)
| Bagian | Yang diperiksa |
|---|---|
| Garpu | Tidak retak, tidak bengkok, ujung sejajar, pengunci terpasang |
| Carriage dan sandaran beban | Tidak retak, baut lengkap |
| Mast dan rantai | Rantai tidak kendur sebelah, tidak berkarat berat, pelumasan cukup, rol tidak aus |
| Silinder dan selang hidraulik | Tidak ada rembesan, selang tidak retak atau terjepit |
| Ban dan roda | Tidak sobek, tidak terkelupas, tekanan angin cukup untuk ban pneumatik, mur roda lengkap |
| Pelindung atas kepala | Tidak bengkok, tidak retak, terpasang kokoh |
| Bodi dan pemberat | Tidak ada bagian longgar |
| Lantai di bawah unit | Tidak ada tetesan oli, air pendingin, atau bahan bakar |
| Pelat nama | Terpasang dan terbaca |
Cairan dan sumber tenaga
Unit diesel
- level oli mesin;
- level air pendingin;
- level oli hidraulik;
- level bahan bakar;
- kondisi sabuk kipas bila terlihat;
- terminal aki tidak longgar dan tidak berkerak.
Unit LPG
- tabung terpasang kencang pada dudukannya;
- sambungan dan selang tidak retak;
- tidak tercium bau gas;
- katup berfungsi.
Unit elektrik
- tingkat pengisian baterai cukup untuk shift;
- konektor dan kabel tidak terkelupas;
- tidak ada tumpahan elektrolit;
- penutup baterai terkunci.
Tata cara pengisian ulang yang aman dibahas di artikel pengisian baterai dan LPG forklift yang aman.
Dari kursi operator
- kursi dapat diatur dan terkunci;
- sabuk pengaman utuh dan mengunci dengan baik;
- kaca spion bersih dan posisinya tepat;
- pedal tidak licin dan kembali normal;
- tuas kontrol kembali ke posisi netral;
- kabin bebas dari benda lepas.
Checklist uji fungsi (mesin hidup)
| Fungsi | Cara menguji |
|---|---|
| Panel instrumen | Lampu indikator menyala lalu padam sesuai fungsinya |
| Klakson | Bunyi jelas |
| Lampu depan, belakang, dan lampu peringatan | Menyala semua |
| Alarm mundur | Berbunyi ketika tuas mundur dipilih |
| Angkat dan turun | Mast naik dan turun halus tanpa tersendat |
| Miring maju dan mundur | Bergerak halus, tidak turun sendiri |
| Geser samping atau attachment | Berfungsi normal |
| Kemudi | Tidak ada gerak bebas berlebihan |
| Rem kaki | Unit berhenti lurus saat diuji pada kecepatan rendah |
| Rem parkir | Menahan unit |
| Suara mesin | Tidak ada bunyi tidak wajar atau asap berlebihan |
Kapan forklift tidak boleh dioperasikan?
Beberapa temuan mengharuskan unit dihentikan saat itu juga:
- rem kaki atau rem parkir tidak berfungsi;
- kemudi berat sebelah atau terlalu longgar;
- garpu retak atau bengkok;
- rantai angkat rusak atau kendur sebelah;
- kebocoran hidraulik, bahan bakar, atau gas;
- ban sobek dalam atau terkelupas besar;
- sabuk pengaman tidak mengunci;
- klakson atau alarm mundur mati;
- pelindung atas kepala rusak.
Langkah yang benar: matikan unit, cabut kunci, pasang tanda peringatan pada kemudi, tulis temuan pada formulir, dan laporkan. Jangan mencoba memperbaiki sendiri bila itu bukan tugas Anda.
Bagaimana mengelola formulir P2H?
Formulir yang baik cukup satu halaman dan memuat:
- nomor unit, tanggal, shift, dan angka jam operasi;
- daftar butir dengan kolom baik atau tidak baik;
- kolom keterangan temuan;
- nama dan tanda tangan operator;
- paraf pengawas.
Tips pengelolaan:
- Simpan formulir pada unit atau di papan dekat area parkir.
- Pengawas meninjau formulir setiap hari, bukan hanya mengarsipkan.
- Temuan dicatat dalam daftar tindak lanjut sampai ditutup oleh bagian perawatan.
- Arsip disimpan sebagai bukti untuk audit dan pemeriksaan berkala.
Kesalahan umum saat P2H
- Mengisi formulir tanpa benar-benar memeriksa unit.
- Melewatkan uji rem karena terburu-buru.
- Melaporkan kerusakan secara lisan saja sehingga tidak tercatat.
- Tetap memakai unit bermasalah karena target pekerjaan.
- Tidak membedakan butir pemeriksaan untuk unit diesel, LPG, dan elektrik.
Pengawas dapat mencegah sebagian besar kesalahan ini dengan sesekali mendampingi operator saat P2H dan menanyakan satu atau dua butir secara acak. Operator yang tahu formulirnya benar-benar dibaca akan mengisinya dengan lebih sungguh-sungguh.
P2H tidak menggantikan pemeriksaan dan pengujian berkala oleh ahli K3. Keduanya saling melengkapi; penjelasannya ada di artikel riksa uji forklift. Bila operator di tempat Anda belum terbiasa dengan P2H, sesi praktik pada in-house training operator forklift dapat memakai unit dan formulir perusahaan sendiri.
Referensi
- Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
- UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
- Buku petunjuk pengoperasian dan perawatan dari pabrikan forklift



